4 Kesalahan Fatal yang Milenial Lakukan dalam Perencanaan Keuangan

1 month ago

Di antara sekian banyak aspek kehidupan yang fatal akibatnya jika diabaikan, keuangan atau finansial adalah salah satu yang paling krusial. Bukan bermaksud perhitungan atau materialistis. Nyatanya, pengelolaan keuangan yang sembrono dan tidak terencana dengan baik akan membuat kamu gagal menabung atau lebih buruk lagi, kekurangan uang walaupun memiliki pemasukan yang besar. Apalagi di era modern seperti sekarang, kamu yang masuk dalam kelompok milenial harus tahu pentingnya perencanaan keuangan. Pengelolaan keuangan milenial yang baik akan membuat hidupmu lebih mudah dan tertata di masa depan.

Dibandingkan dengan era orang tua kita, keuangan milenial terbilang lebih kompleks. Jika puluhan tahun lalu keuangan hanya berkutat pada biaya operasional rumah, makan, dan juga pendidikan, kini ragam kebutuhan bertambah banyak. Kamu perlu biaya pergaulan, rekreasi, kursus, hingga urusan internet. Belum lagi jika hobi jajan lewat aplikasi ojek online, pengeluaranmu pasti lebih banyak lagi.

Itulah alasannya kenapa perencanaan keuangan milenial jadi menantang dan wajib banget dilakukan. Jika belum mampu mengaturnya secara terperinci, setidaknya kamu dapat menghindari kesalahan berikut agar keuangan tetap stabil dan sehat.

Tidak Punya Dana Darurat

Kesalahan pertama adalah tidak punya dana darurat atau biasa disebut sebagai uang cadangan. Tujuan dari memiliki dana darurat ini adalah untuk menutupi kebutuhan mendesak yang tidak mungkin ditunda, seperti saat sakit dan harus berobat atau kewajiban membantu orang tua. Generasi milenials banyak yang mengabaikan pos keuangan darurat ini karena berpikir masa depan tidak ada yang tahu. Bisa jadi dalam 2 atau 3 bulan mendatang tidak ada hal mendesak yang membutuhkan banyak uang.

Di sinilah letak kesalahan berpikirnya. Kebutuhan darurat memang tidak datang setiap bulan, tapi kamu tidak pernah tahu kapan akan datang. Ketika tiba-tiba sakit atau terkena musibah, kamu yang tidak punya dana darurat akan kebingungan dan kalut sebab tidak memiliki dana untuk menanganinya. Akibatnya, kamu jadi tidak punya pilihan selain berhutang. Baik kepada teman atau bahkan pinjaman online yang semakin memberatkan keuanganmu ke depannya.

Biaya Hidup Tinggi

Besaran living cost atau biaya hidup memang mungkin dipengaruhi oleh lingkungan tempat kamu tinggal. Ambil contoh, biaya kehidupan di kota Malang yang merupakan kota kecil tentunya akan lebih murah ketimbang di kota metropolitan seperti Jakarta. Tingginya biaya hidup karena faktor lingkungan ini mungkin susah dihindari. Namun, jangan sampai pengeluaranmu terlalu banyak di aspek ini jika hanya untuk memenuhi nafsu atau pergaulan saja. Sebab terkadang banyak milenial yang terjebak karena hal yang diluar perencanaan keuangan seperti ini.

Seperti jika kamu tidak mau makan di warung tegal dan hanya ingin nongkrong di kafe. Kamu wajib nonton film baru setiap minggu padahal gaji pas-pasan. Memaksakan diri untuk memenuhi biaya hidup tinggi karena kebutuhan tersier seperti inilah yang akan mengganggu pengelolaan keuangan kamu. Efeknya fatal, lho. Dengan gaya hidup serba “wah” kamu jadi tidak dapat menabung. Kebiasaan hidup mewah juga membuat kamu “lebih besar pasak daripada tiang”.

Hutang Kartu Kredit

Tidak dapat dipungkiri bahwa kepemilikan kartu kredit sering dianggap sebagai bagian dari gaya hidup mewah. Pemilik kartu kredit dianggap bergengsi dan mampu mendapatkan apapun yang diinginkan saat itu juga. Ingat, kartu kredit adalah hutang yang “tidak terasa”. Kamu memang dapat menggunakannya untuk makan di resto mewah atau membeli barang bermerek hanya dengan menggesekkan kartu. 

Belum lagi ada banyak promo dan diskon yang ditawarkan oleh bank kepada pemilik kartu kredit yang bikin ngiler. Namun, dibalik segala kemewahan dan kemudahan tersebut, di tanggal tertentu kamu tetap wajib membayar tagihan yang disertai dengan bunga tinggi sebagai biaya jasa.

Jika mampu menggunakan kartu kredit secara bijak, seperlunya, dan disiplin membayar tagihan, tentunya tidak masalah. Apalagi jika memang kartu tersebut kamu gunakan untuk mengembangkan bisnis dengan berbuah profit, bahkan mendatangkan surplus setelah digunakan untuk membayar tagihan kartu kredit setiap bulannya. Dengan kata lain, kartu kredit sebenarnya memang diperuntukkan bagi kalangan tertentu saja yang mampu memenuhi segala tanggung jawab yang melekat.

Nah, sekarang apa jadinya jika pemasukan pas-pasan, namun tetap harus dikurangi oleh tagihan kartu kredit yang ternyata digunakan untuk beli barang yang tidak perlu alias bersikap konsumtif? Kondisi finansialmu akan buruk dan terbebani oleh hutang yang sangat mungkin makin besar dari waktu ke waktu. Efeknya lainnya adalah kamu akan mendapatkan reputasi buruk yang menyulitkan saat mengajukan kredit karena pembayaran yang selalu meleset.

Tidak Ada Tabungan Masa Depan

Pernah tidak kamu membayangkan kehidupan di hari tuamu nanti? Apakah kamu akan ikut hidup serumah dengan anak cucu atau memilih hidup mandiri? Pilihan seperti itu akan ada jika kamu memiliki tabungan masa depan. Dengan menabung sedikit demi sedikit, kamu tidak harus khawatir akan kebutuhan hari tua nanti ketika sudah tidak produktif lagi.

Saat sakit karena usia lanjut, kamu memiliki dana yang cukup untuk membiayai pengobatan. Ketika rumah dinas tidak lagi bisa dihuni karena masa bakti yang sudah berakhir, kamu juga tidak takut karena bisa membeli rumah sendiri walaupun mungil.

Bahkan, tidak sedikit ahli keuangan yang menyebutkan bahwa sebaiknya kamu sebagai kaum milenial mulai memikirkan tentang tabungan masa depan ini. Lebih baik dari sekarang, sejak usia 25-an ketika karirmu mulai mapan. Dengan menabung sedikit demi sedikit, di usia 60an nanti secara perhitungan matematis kamu akan memiliki simpanan yang cukup untuk memenuhi kebutuhanmu sendiri termasuk sandang, pangan, dan papan. 

Tidak menutup kemungkinan kamu juga dapat memenuhi kebutuhan tersier seperti liburan bersama anak dan cucu. Itulah sebabnya jangan sampai kamu terlena dengan gaya hidup modern dan membuat kesalahan dengan mengabaikan tabungan masa depan.

Pada intinya, tabungan masa depan sebenarnya hanya untuk kepentinganmu sendiri, kok. Bayangkan saja jika kamu sama sekali tidak memiliki tandon uang saat masa tua nanti. Kamu masih harus membanting tulang dengan kondisi yang sudah tidak lagi muda hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Tidak mungkin juga kan, kamu menggantungkan dirimu sepenuhnya kepada anak-anak yang sudah memiliki tanggung jawab dan keluarganya sendiri? Jangan mengambil resiko masa depan yang tidak menyenangkan seperti ini jika sebenarnya kamu dapat mempersiapkan diri mulai dari hari ini.

Mengelola uang yang kamu miliki memang tidak mudah, karena godaan dalam pergaulan tidak dapat diremehkan. Namun, dengan kontrol diri yang baik kamu pasti mampu menghindari kesalahan-kesalahan di atas. Sehingga, kondisi finansialmu akan tetap stabil dan terus merangkak naik dari tahun ke tahun. 

Jadi generasi milenial jangan hanya pandai menghasilkan uang, tapi juga harus cerdas dalam mengaturnya. Toh, pada akhirnya kamu sendiri yang akan merasakan buah dari kedisplinanmu menjaga keuangan, bahkan memiliki tabungan untuk keadaan darurat dan hari tua.

Kembali ke list